Mengapa manusia bisa menjadi licik?
Pertanyaan
ini mulai muncul ketika aku duduk di bangku universitas. Saat itu aku
masuk di universitas swasta jurusan fisika. Jurusan
yang tentu saja membuat pusing. Tapi aku tak pernah mau larut dalam
kepusingan. Hanya membiarkan semuanya berjalan dengan apa adanya.
Hanya tidak ingin mau mencampuri urusan orang lain. Aku terkesan
seperti murid yang jutek dan cuek. Tapi aku tidak peduli yang penting
aku masuk kelas dan ketika dosen menanyakan pendapat, tentu saja aku
akan mencoba untuk menjawab., karena hanya dengan cara seperti itu,
namaku akan diingat.
Bukannya
sombong, tapi aku merupakan tipe mahasiswa yang lumayan pintar. Hal
itu disebabkan karena aku bersekolah di SMA tingkat nasional yang
sedari dulu sudah dibiasakan belajar keras. Jadi ketika di bangku
kuliah, rasanya sangat santai bahkan aku tidak pernah belajar di awal
semester. Namun semakin lanjut, aku menyadari harus meningkatkan
kemampuanku belajar.
Di
semester 3 aku mulai mengenal watak dari teman-teman sekelasku.
Mereka semakin lama semakin membuat kelompok dan mereka seperti
benalu kepada teman-teman lain yang tidak berkelompok. Bahkan ada
kelompok yang hobinya mencari perhatian kepada dosen dengan pura-pura
sok dekat, menelepon dosen, bahkan ada yg terang-terangan menggoda
dosen dan mereka selalu mendapatkan nilai tinggi dan IP tinggi.
Bahkan
ada yang menjadi 10 besar IP tertinggi loh. Sungguh mengejutkan
memang. Terkadang orang licik itu mendapatkan kedudukan.
Jadi
dalam hati. Apakah aku iri? Ataukah watak mereka yg jahat?
Wisuda
sudah selesai dan masa-masa kuliah sudah tiada. Akhirnya kami harus
berdiri di kaki sendiri dan menunjukkan dunia kemampuan kami
masing-masing. Tes dalam setiap pekerjaan selalu menjadi titik tolok
dan titik ukur kemampuan kami. Oke well, tentu saya saya masuk ke
sebuah perusahaan dan teman-teman yang licik itu? Well, mereka belum
mendapatkan pekerjaan. Jadi saya mengambil keputusan tidak akan
menjadi orang licik. Hanya menjadi diri sendiri slalu meningkatkan
kemampuan. Tidak ada gunanya iri kepada teman satu kelas. Itu akan
membuang waktumu. Semua akan dapat dibuktikan ketika pencarian
pekerjaan dan jati diri.
Be
your self and belive ur ability ..
smoga
bermaanfaat
Thanks
and Regard